Dodingtonfamily Info Keluarga Tertua Di Dunia

Informasi Mengenai Keluarga Yang Memiliki Garis Keturunan Yang Lama Hingga Ribuan Tahun

Mengenal Keluarga Prajogo Pangestu

6 min read
Mengenal Keluarga Prajogo Pangestu

Mengenal Keluarga Prajogo Pangestu –  Profil Prajogo Pangestu kembali ramai diperbincangkan setelah ia menduduki peringkat ketiga orang terkaya di Indonesia dan peringkat 77 orang terkaya di dunia. Orang terkaya ketiga di Indonesia, kekayaan Prajogo Pangestu dipatok menyalip Michael Hartono, salah satu bos Grup Djarum yang hingga saat ini menduduki puncak daftar orang terkaya Indonesia.

Mengenal Keluarga Prajogo Pangestu

Mengenal Keluarga Prajogo Pangestu

dodingtonfamily – Namun, kekayaan Prajogo masih kalah dengan taipan batu bara Lo Tak Kwong. Total kekayaan Prajogo Pangestos dilaporkan sebesar $20,6 miliar atau setara Rp323,3 triliun. Sejak awal tahun ini, kekayaannya meningkat sebesar $16,1 miliar atau sekitar Rp 252,67 triliun.

Bos Djarum, Michael Hartono, saat ini menduduki peringkat keempat orang terkaya di Indonesia dan peringkat 80 orang terkaya dunia. Ia mencatatkan aset sebesar $20 miliar atau sekitar Rp 313,88 triliun.

Sedangkan kekayaannya meningkat sebesar $2,12 miliar atau Rp33,27 triliun secara year-to-date atau year-to-date.

Sebelumnya, profil Prajogo Pangestu yang ramai dibicarakan pernah menempatkannya di peringkat 7 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes. Per Desember 2022, kekayaan Prajogo senilai $4,9 miliar atau Rp76 triliun.

Namun, dibalik kesuksesannya membangun perusahaannya menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, pria kelahiran Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 1944 ini rupanya mengalami kemalangan finansial.

Profil Prajogo Pangestos, orang terkaya ketiga di Indonesia, diverifikasi Bisnis.com. Prasoho Pangestos adalah seorang sopir angkutan umum di kotanya.

 

Baca Jugaa : Pentingnya Prinsip Cincii Dalam Dunia Bisnis Keluarga

 

Masa Kecil Prajogo Pangestu Nama Asli : Phan Joem Pheng. Semasa kecil, Prajogo Penjestu hidup dalam keluarga kurang mampu secara ekonomi.

Sejak kecil ia harus bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya adalah seorang penyadap karet. Karena alasan keuangan, Prajogo Pangestos hanya mampu menyelesaikan pendidikannya sampai SMP.

Meski hidup penuh kesulitan, bukan berarti Prajogo Pangestos menyesali nasib hidupnya. Berkat sikap baik dan motivasinya menghidupi keluarga secara halal, ia pindah ke Jakarta dan membuka jalan menuju kesuksesan.

Sayangnya, jalan-jalan ke Jakarta belum tentu mendatangkan penghasilan. Karena kecewa, dia kembali ke kampung halamannya.

Prajogo memutuskan mencari nafkah kembali sebagai sopir angkutan umum. Sekitar tahun 1960, Prajogo yang bekerja sebagai sopir angkutan umum akhirnya bertemu dengan seorang pengusaha kayu asal Malaysia bernama Bon Soon Ong atau Burhan Ulay.

Pertemuannya dengan pengusaha kayu asal Malaysia rupanya menjadi titik awal perubahan profil Prajogo Pangestos sebagai orang terkaya ketiga di Indonesia.

Profil bisnis orang terkaya ketiga di Indonesia, Prajogo Panguest
Prajogo memulai karirnya pada tahun 1969 di PT Djajanti Group di Sun On. Berkat kerja kerasnya, tujuh tahun kemudian, Prajogo diangkat menjadi General Manager (GM) pabrik kayu lapis di Nusantara.

Setahun dalam karirnya, dia mengambil langkah untuk mendirikan perusahaannya sendiri. Awalnya ia membeli CV Pacific Lumber Coy dengan modal pinjaman bank.

Perusahaan ini sukses memasuki pasar modal Indonesia pada tahun 1993 dan akhirnya berganti nama menjadi PT Barito Pacific pada tahun 2007. Usahanya terus berkembang hingga ia berkolaborasi dengan anak-anak mantan Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya.

Sehubungan dengan karirnya, sejak tahun 1993, Bapak Prajogo Pangest menjabat sebagai Komisaris Utama PT Tripolita Indonesia Tbk, Komisaris Utama PT Chandra Asli Petrochemical Center, Wakil Komisaris Utama PT Tanjunggenim Lestari Pulp & Paper, PT Barito Beliau pernah menjabat sebagai jabatan Komisaris Utama Pacific Timber. , Tbk, kepada Komisaris PT Astra International, 1993-1998.

Prajogo Pangestu Pengembangan Bisnis Menurut Forbes, perusahaannya Barito Pacific Timber go public pada tahun 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific pada tahun 2007 setelah menghentikan operasi perkayuannya.

Pada tahun 2007, Ballito Pacific mengakuisisi 70% saham Chandra Asri, sebuah perusahaan petrokimia yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada tahun 2011, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polita Indonesia untuk menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Thai Oil mengakuisisi 15% saham Chandra Asri pada Juli 2021.

Menyusul kesuksesan bisnis petrokimia dalam negeri, Pangestu Family Office mengakuisisi 33 persen saham BCPG Thailand pada Maret 2022 senilai USD 440 juta atau Rp 6,8 triliun, sehingga kembali mendirikan perusahaan produksi energi panas Star – Acquired Energy.

Perusahaan ini menjadi incaran Prajogo sejak tahun 2009. Setelah itu, Prajogo akhirnya melakukan akuisisi dan jumlah saham Star Energy menjadi 66,66% dari saham beredar.

 

Hasilnya, selain pengolahan kayu, bisnis Grup Barito juga berekspansi ke bidang petrokimia, menggandakan kapasitasnya saat ini di kompleks petrokimia kedua dan memproduksi berbagai palet. Grup ini mengoperasikan naphtha cracker petrokimia terbesar dan satu-satunya yang terintegrasi di Indonesia . dari olefin, poliolefin, monomer stirena dan butadiena.

Selanjutnya, Ballito Pacific juga mengoperasikan perusahaan listrik panas bumi terbesar ketiga di dunia untuk mengembangkan portofolio energi terbarukan melalui proyek-proyek greenfield yang ada dan menjajaki potensi akuisisi brownfield di seluruh dunia.

Divisi real estat Barito Pacific juga mendukung sektor industri besar dengan transaksi real estat komersial. Terakhir, kelompok ini juga menjalankan sejumlah program CSR melalui atau bekerja sama dengan Yayasan Bhakti Barit.

Dengan berbagai upaya tersebut, Prajogo Pangestu semakin meraih kesuksesan, dan hingga saat ini profil orang terkaya ketiga di Indonesia ini sangat populer di kalangan masyarakat.

 

Baca Jugaa : Drama Korea Romantis Tentang CEO Tampan 

 

Fakta Keluarga Prajogo Pangestos, Orang Terkaya di Indonesia

Prajogo Pangestos merupakan salah satu konglomerat tanah air yang bergerak di sektor perkayuan dan petrokimia. Ia mendirikan perusahaan kayu pada tahun 1980 bernama PT Barito Pacific. Prajogo Pangest menjadi sorotan setelah namanya masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia. Dalam daftar yang dirilis Jumat (11/10/2023), ia menduduki peringkat pertama orang terkaya Tanah Air dengan total kekayaan senilai $38,7 miliar atau Rp 607 triliun. Pundi-pundinya lebih besar dibandingkan konglomerat Loh Tak Kwong yang memiliki aset sebesar $26,5 miliar atau sekitar Rp415,6 triliun. Setelah Prajogo Pangestos tiba-tiba menjadi orang terkaya di Indonesia, banyak orang yang tertarik dengan profil miliarder tersebut. Bahkan dalam kaitannya dengan keluarganya.

1. Berasal dari latar belakang keluarga miskin

Hidupku kaya sekarang, tapi dulu tidak seperti itu. Prajogo Pangest sepertinya terlahir dari keluarga kurang mampu secara ekonomi. Selain itu, pemilik nama asli Juan Joem Peng ini menyelesaikan pendidikannya hanya di bangku SMA. Ia mencoba peruntungan di Jakarta namun tidak mendapatkan apa-apa dan kembali ke kampung halamannya sebagai sopir angkutan umum.

2. Ayahnya adalah seorang pedagang karet di Kalimantan.

Masa kecil Prajogo diwarnai dengan kesulitan keuangan. Tak jarang pria kelahiran 13 Mei 1944 ini bekerja untuk menghidupi keluarganya. Saat itu, pekerjaan ayahnya sebagai pedagang karet belum cukup untuk menghidupi keluarga. Alhasil, Prajogo hanya mampu mengenyam pendidikan hingga SMP. Setelah bertemu dengan Bong Soon Ong atau Burhan Ulay, seorang pengusaha kayu asal Malaysia, perlahan hidupnya berubah menjadi lebih baik. Pak Prajogo diajak oleh pengusaha tersebut untuk bergabung dalam industri perkayuan PT Jajanthi Group pada tahun 1969. Setelah memperoleh banyak pengalaman di bidang ini, Prajogo memulai usahanya sendiri pada tahun 1980 dengan mendirikan Pacific Lumber.

3. Memiliki seorang istri dan tiga orang anak

Berbicara tentang kehidupan cintanya, Prajogo Pangestu menikah dengan Herlina Jandinegara, Agus Salim Pangestu, Nancy Pangestu, Balitono. Mereka dikaruniai tiga orang anak, Pangestu. Putra bungsunya Balitono menikah dengan Maria Jennifer Setiawan pada 6 Maret 2017. Jennifer dikenal karena karir profesionalnya di Sinarmas Group.

4. Agus Salim dan Balitno bergabung di perusahaan ayahnya

Agus Salim dan Balitno mengikuti jejak ayahnya dan juga ikut berkarir di perusahaan Prajogo Pangestu. Bapak Agus Salim menjabat sebagai Direktur Utama PT Barito Pacific Tbk, sedangkan Bapak Baritono saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Direktur Komersial PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), anak perusahaan PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Ketiga anaknya memiliki saham tidak langsung di emiten Prajogo

. Anak Prajogo Pangest tercatat sebagai pemegang saham tidak langsung PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Ketiganya memegang saham melalui Green Era Energy Pte. Ltd (GEE) dimiliki oleh ketiga anak Prajogo dan Irwin Ciputra, yang merupakan direktur BREN dan presiden Chandra Asli Petrochemicals (TPIA). Menurut laporan, Pak Irwin memiliki 6,01% saham GEE. Tuan Agus Salim dan Tuan Baritono saat ini masing-masing menguasai 4,99% saham GEE. Nancy saat ini memegang kepemilikan melalui Springhead Holdings Pte Ltd. 78% saham GEE. 6. Putri Prajogo menjadi tuan rumah resepsi pernikahan mewah di Singapura

Nancy Pangestus dikabarkan menjadi tuan rumah resepsi pernikahan yang sangat mewah di Singapura. Dia dan pasangannya Nicolas Tabarder menghabiskan puluhan miliar dolar untuk acara pernikahan mereka di Ballroom Hotel Ritz-Carlton Lilina di Singapura. Ia juga menyediakan tiket kelas bisnis pulang pergi dari Indonesia ke Singapura dengan Singapore Airlines kepada para tamunya. Nancy juga menata hingga kamar hotel bintang 300 untuk tamunya. Nah, itulah beberapa fakta keluarga Prajogo Pangestos secara detail. Uraian di atas akan memberi tahu Anda sedikit hal tentang latar belakang dan keluarga orang terkaya di Indonesia.

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.