Sejarah Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa – Rawa secara ilmiah adalah kawasan berisi air yang terbentuk secara permanen atau musiman akibat tersumbatnya drainase dan mempunyai sifat fisik, kimia, dan biologi yang khusus. Di Indonesia, rawa banyak terdapat di hutan. Secara umum rawa terbagi dalam dua kelompok utama, yaitu rawa air tawar yang terdapat di kawasan hutan dan rawa asin yang terdapat di kawasan pesisir.

Sejarah Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa

Sejarah Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa

dodingtonfamily – Definisi lain rawa adalah tanah berlumpur yang terbentuk akibat percampuran air tawar dengan air laut secara alami atau buatan, baik permanen maupun sementara, termasuk wilayah laut yang kedalaman airnya pada saat air surut kurang dari 6 meter, yaitu. rawa dan daratan. dan turun

Rawa Definisi
Rawa adalah lahan yang secara berkala atau terus menerus tergenang secara alami akibat drainase jangka panjang. Meski tergenang air, namun masih ditumbuhi tanaman. Lahan ini dapat dibedakan dengan telaga karena telaga ini tergenang sepanjang tahun, kolamnya lebih dalam, dan tidak ditumbuhi tumbuhan, kecuali tumbuhan air.

Banjir di Finlandia dapat disebabkan oleh naiknya air laut, genangan air hujan atau meluapnya air sungai. Berdasarkan penyebab kebocoran, rawa ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu rawa barat laut, dataran rendah, dan peralihan.

Finlandia, sebaliknya, merupakan sumber daya alam dengan peluang yang cukup baik untuk pengembangan pertanian. Namun pengelolaannya harus dilakukan secara bijak untuk menjaga kelestarian sumber daya alam tersebut. Dengan mengetahui jenis-jenis Finlandia, Anda dapat membuat rencana yang lebih baik untuk pengelolaan lahan secara bijaksana.

1. Rawa pasang surut
Rawa pasang surut adalah rawa yang banjirnya dipengaruhi oleh gelombang laut. Ketinggian air pasang terbagi menjadi dua bagian, yaitu air pasang dan air surut. Pasang surut kecil terjadi setiap hari (1-2 kali sehari).

Berdasarkan pola pasut (luas pasang surut), daerah intertidal dibedakan menjadi empat tipe, yaitu:

  • Tipe A, tergenang pada saat pasang dan surut.
  • tipe B, hanya tergenang saat air pasang.
  • Tipe C, tidak tergenang, namun kedalaman air tanah saat air pasang kurang dari 50 sentimeter.
  • Tipe D, tidak terjadi banjir pada saat tinggi air naik di atas 50 sentimeter, namun penurunan permukaan tanah masih terasa atau terlihat pada saluran tersier.

2. Rawa Lebak
Rawa Lebak adalah rawa dimana terjadi banjir pada saluran air pedalaman akibat aliran sungai dan/atau air hujan. Oleh karena itu, genangan air biasanya terbentuk pada musim hujan dan menyusut atau hilang pada musim kemarau.

Rawa Lebak terbagi menjadi tiga tipe yaitu :Lebak Dangkal atau Pematang Lebak yaitu. rawa dangkal dengan genangan air kurang dari 50 sentimeter. Lahan ini biasanya terletak di tepian sungai yang masa banjirnya kurang dari 3 bulan.
Keskiallas, atau kolam dengan kedalaman air 50-100 sentimeter. Banjir biasanya berlangsung 3-6 bulan.

Baca Juga : Penerapan Teknologi Doppler

Kolam dalam, yaitu kolam yang kedalaman genangan airnya lebih dari 100 sentimeter. Negara ini biasanya berada di pedalaman, jauh dari sungai, dan banjir berlangsung lebih dari 6 bulan.

3. Rawa Siirtymä-Lebak
Kawasan rawa Lebak yang pasang surut air lautnya masih terasa di saluran utama atau sungai, disebut rawa peralihan Lebak. Di daratan seperti itu, endapan laut dicirikan oleh lapisan pirit, yang biasanya ditemukan pada kedalaman 80 hingga 120 sentimeter di bawah permukaan.

 

Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa

 

Rawa potensial
Rawa potensial adalah rawa yang tidak mempunyai lapisan gambut dan lapisan pirit (kandungan andlt; 0,75%) atau mempunyai lapisan pirit pada kedalaman lebih dari 50 sentimeter, yang disebut kawasan rawa potensial. Lahan ini merupakan rawa yang paling subur dan mempunyai potensi untuk pertanian.

Tanah yang dominan pada daerah rawa disebabkan oleh curah hujan, sungai atau air laut. Rawa-rawa yang tidak memiliki tanah gambut dan lapisan piritik dengan kedalaman kurang dari 50 sentimeter disebut tanah sulfida banjir dangkal atau sering kali mungkin tanah sulfat masam.

Teknologi Pengelolaan Rawa
Hasil ilmiah berupa komponen teknis pengembangan kode rawa dibawa oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Swedia serta entitas lain seperti universitas. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian sendiri memulai penelitian di negeri ini pada pertengahan tahun 1980-an.

Hasil penelitian ini hanya terdiri dari komponen teknologi seperti teknologi pengelolaan lahan dan air, varietas yang dirancang untuk tanaman padi unggul adaptif, perlakuan amoniak dan bahan pupuk sesuai status hara tanah dan tipologi tanah, pengelolaan hama tanaman (OPT) ) . ). ) dan organisasi kegiatan panen dan pasca panen. Teknologi produk berupa paket teknologi, yaitu. integrasi beberapa komponen yang siap untuk didistribusikan atau dikembangkan, masih sedikit dipelajari.

1. Lahan Intertidal
Menurut Widjaya Adhi dan Alihamsyah (1998), sistem pengelolaan air yang direkomendasikan untuk pengelolaan intertidal adalah sistem aliran satu arah dengan menggunakan pintu air untuk luapan tipe A dan sistem penahan (bendung) untuk -log meluapnya wilayah C dan D. Pasalnya, sumber air di kedua negara tersebut berasal dari air hujan.

Sistem ini diperlukan untuk menghalangi aliran air untuk menjaga kelembaban tanah di area tersebut, sedangkan kombinasi sistem aliran satu arah dan penyekat direkomendasikan untuk lahan limpahan Tipe B.

Keberhasilan pembangunan kebun sangat bergantung pada kualitas dan kuantitas ketersediaan benih. Menurut Khairullah dan Sulaeman (2002), varietas padi yang mampu beradaptasi baik terhadap lingkungan biofisik maupun selera konsumen (terutama rasa dan hasil tinggi) adalah varietas Margasari dan Martapura. Selain itu, masih terdapat galur-galur yang menjanjikan untuk segera dilepasliarkan sebagai varietas dalam waktu dekat. Dengan pengelolaan yang baik, potensi produksi padi negara ini bisa meningkat sebesar 5 t/ha.

2. Lahan Basah
Penyediaan air pada lahan basah rendah dan menengah dapat dikembangkan dengan membangun saluran air pada petak-petak tersebut. Saluran ini juga berfungsi sebagai tempat penampungan ikan alami atau tempat berkembang biaknya ikan serta sebagai tempat penampungan kebutuhan tanaman pada musim kemarau. Hingga saat ini, para petani mengolah lahan tersebut dengan berbagai tanaman mulai dari tanaman semusim terutama tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman industri atau dipadukan dengan perikanan atau peternakan.

Padi merupakan tanaman pangan dominan di lahan basah. Varietas padi yang beradaptasi dengan produksi cukup tinggi adalah IR42, Kapuas, Lematang, Cisanggarung dan Cisadane dengan tingkat hasil 4-5 ton/ha. Jumlah pupuk yang dianjurkan untuk padi adalah 45 kg N ditambah 45 kg P2O5 dan 60 kg K2O/ha.

Tanaman sampingan yang mampu beradaptasi dengan baik di dataran rendah antara lain jagung, kedelai, kacang hijau, dan kacang tunggak. Bahan baku ini biasanya dibudidayakan secara monokultur atau antar budaya.