Biografi Singkat Tentang Presiden Soeharto – Soeharto yaitu salah satu presiden kedua Indonesia yang menjabat dari tahun 1967 hingga 1998, menggantikan Sukarno. Di dunia internasional, khususnya di dunia Barat, Soeharto sering disebut dengan julukan populer “Jenderal yang Tersenyum” (Bahasa Indonesia: “Jenderal yang Tersenyum”) karena sikapnya yang selalu tersenyum. menghadapi. tersenyum dan menunjukkan kebaikan. Meski demikian, meski menuai berbagai kontroversi, ia kerap digambarkan otoriter oleh lawan-lawannya.

Biografi Singkat Tentang Presiden Soeharto

Biografi Singkat Tentang Presiden Soeharto

dodingtonfamily – Sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah seorang pemimpin militer di Hindia Belanda dan Kekaisaran Jepang, dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Pasca Gerakan 30 September 1965, Soeharto melakukan operasi penertiban dan pengamanan atas perintah Presiden Soekarno, antara lain penumpasan Gerakan 30 September dan penetapan PKI sebagai organisasi terlarang. Berbagai kontroversi menyebutkan 100.000 hingga 2 juta orang tewas dalam operasi ini.

Soeharto kemudian mendapat amanat dari L Sementara ‘ Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPRS) dibentuk pada tanggal 26 Maret 1968 dan menggantikan Soekarno sebagai presiden. Pada tahun 1968 ia resmi menjadi presiden. dia dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993 dan 1998. Pada tahun 1998 mandatnya berakhir setelah ia terpilih kembali pada tanggal 21 Mei tahun yang sama menyusul kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan DPR. /Gedung MPR oleh ribuan mahasiswa mengundurkan diri. Beliau merupakan presiden terlama di Indonesia. Soeharto digantikan oleh BJ Habibie.

Soeharto adalah sosok yang kontroversial, antara lain karena membatasi kebebasan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, menduduki Timor Timur, menerapkan asas Pancasila di berbagai bidang, dan dianggap sebagai salah satu rezim paling korup di dunia. negara di era modern. Sejarah dunia. Menurut Transparansi Internasional, perkiraan kerugian negara pada masa pemerintahannya adalah sekitar $15 miliar hingga $35 miliar. Namun hal tersebut tidak dapat dibuktikan, bahkan majalah Time kalah dalam kasus tersebut dan upaya lain untuk mengadili Soeharto gagal karena kesehatannya memburuk. Setelah lama sakit, ia meninggal pada 27 Januari 2008 di Jakarta karena kegagalan organ multifungsi.

Keluarga
Orang Tua
Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921 dari pasangan perempuan bernama Sukirah di Desa Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Kelahiran tersebut ditolong oleh seorang bidan bernama Mbah Kromodiryo yang juga merupakan adik dari kakek Sukirah, Mbah Kertoirono.

Dalam otobiografinya Pikiran, Ucapan dan Tindakanku yang disusun oleh G. Dwipayana, Sukirah Soeharto menggambarkan salah satu ibu muda yang sulit memikirkan masalah rumah tangga. Namun banyak dokumen dalam buku sejarah Soeharto lainnya yang menyebutkan bahwa Sukirah mempunyai masalah psikologis yang sangat parah. Sebelum Soeharto (lahir 8 Juni 1921) berusia 40 hari, Sukirah menghadapi perceraian dengan suaminya Kertosudiro.

Kertosudiro, seorang mantri miskin ulu-ulu (manajer irigasi) yang kemudian menjadi ayah Soeharto , tidak banyak berperan dalam kehidupan Soeharto. Bahkan, banyak pengamat Soeharto seperti R.E. Elson, beberapa penulis biografi dan orang-orang terdekatnya, termasuk mantan Menteri Penerangan Mashuri yang dekat dengan Soeharto, meyakini Kertosudiro bukanlah ayah kandung Soeharto.

Pada tahun 1974, ada berita buruk dari majalah gosip bernama “POP”, yang sampulnya mengungkap cerita lama bahwa Soeharto adalah putra Padmodipuro, seorang bangsawan ras Hamengkubowono II. Soeharto kecil yang masih berusia 6 tahun dibuang ke desa dan diasuh oleh Kertosudiro. Hal ini kemudian dibantah keras oleh Soeharto. Setengah kesal, Soeharto menggelar konferensi pers di Bina Graha dan menjelaskan bahwa menutup-nutupi asal muasalnya bisa menjadi sarana tindakan subversif. Dengan caranya sendiri, Soeharto ingin memberikan kesan sebagai anak desa.

Asal usul silsilah Soeharto masih belum jelas. Namun terlepas dari semua itu, anak Soeharto hidup di dunia dengan kondisi keluarga yang kurang menguntungkan. Sukirah yang mengalami depresi dan gemar bermeditasi, pernah ditemukan hampir tewas di suatu tempat karena memaksakan diri untuk berpuasa ngebleng (tidak makan atau minum selama 40 hari) di tempat tersembunyi, dan suatu saat ia menghilang. Saking paniknya warga Desa Kemusuk, warga pun mulai mencarinya. Sadar kondisi Sukirah kurang baik, keluarga Sukirah akhirnya memutuskan untuk mempercayakan perawatan Soeharto kecil kepada kakak perempuan Kertosudiro.

Istri dan anak
Saya Pada bulan Oktober 1947, Soeharto menerima kunjungan dari keluarga Prawirowihardjo yang tak lain adalah paman dan orang tua angkatnya. Mereka berencana menjodohkan Soeharto dengan Raden Ayu Siti Hartinah, putri KRMT Soemoharyomo. Soemoharyomo adalah seorang Wedana di Solo. Soeharto, 26 tahun, mengaku tak punya calon, bahkan tak pernah menjalin hubungan asmara dengan perempuan. Keluarganya khawatir Soeharto akan menjadi bujangan tua karena mereka sudah lama mengetahui sifat Soeharto yang sangat pendiam, pasif, dan cenderung pemalu. Pada akhirnya rencana pernikahan keluarga Prawirodihardjo berjalan lancar.

Masa kecil dan pendidikan
Soeharto tidak seperti anak-anak desa lainnya yang harus bekerja di sawah. Ia disekolahkan oleh Kertosudiro pada usia muda. Tidak ada informasi mengenai masa-masa Soeharto duduk di bangku sekolah dasar (setingkat sekolah dasar). Kesan Soeharto semasa SD hanyalah kenangannya terhadap kerbaunya. Dunia Soeharto berkisar pada peternakan kerbau, jauh berbeda dengan cerita yang dipelajari anak-anak dari buku-buku yang sering dibaca anak-anak sekolah dasar. Berbeda misalnya dengan cerita Soekarno saat masih duduk di bangku sekolah dasar yang banyak bercerita tentang masa sekolahnya dan bacaannya, tetapi juga dengan Hatta dan Sjahrir yang bertemu dengan Karl May, atau dengan novel cerpen karya Charles Dickens. Sejak kecil .

Baca Juga : Museum Paling Unik Di Seoul Yang Wajib Anda Kunjungi 

Masa kecil Soeharto menyimpan banyak kenangan pahit. Bukan hanya pahit, tapi juga melukai hatinya. Seperti yang pernah dialaminya saat duduk di bangku sekolah dasar, Soeharto kerap menjadi korban bullying dari teman-temannya. Belakangan, meski puluhan tahun telah berlalu sejak terakhir kali, dia masih merasakan perundungan di benaknya. Misalnya hinaan “Den Bagus dung dung! “Den Bagus dung dung mabul” dan “Harto sirah besar!” .

Alhasil, Soeharto muda dikenal sebagai siswa yang sangat pendiam dan tertutup, sekaligus paling pendiam di antara teman-teman sekolahnya. Selain teman-temannya, ia juga mengalami kenangan menyakitkan dengan kakek buyutnya, Mbah Notosudiro, yang memperlakukan Soeharto kecil berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Kenangan pahit dan pedih yang dialami Soeharto semasa kecil membuatnya bertekad menjadi orang kaya dan berpangkat tinggi di masa depan.

Seiring bertambahnya usia, Soeharto tinggal bersama kakeknya Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Soeharto bersekolah pada usia delapan tahun, namun sering berpindah-pindah. Awalnya ia disekolahkan di Sekolah Dasar (SD) di Desa Godean. Kemudian ia pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) karena ibu dan ayah tirinya Pramono pindah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian memindahkan dr Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.

 

Presiden Soeharto

 

Soeharto ditempatkan di rumah bibinya yang menikah dengan seorang pembantu yang bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima sebagai putra sulung dan diperlakukan sama seperti putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto kemudian disekolahkan dan mempelajari semua mata pelajaran, terutama aritmatika. Ia juga mendapat pendidikan agama yang cukup baik dari keluarga bibinya.

Kecintaan terhadap pertanian tumbuh pada masa Soeharto tinggal di Wuryantoro. Di bawah bimbingan pamannya yang bekerja sebagai asisten di pertanian, Soeharto belajar memahami dan mengabdikan dirinya di bidang pertanian. Sepulang sekolah, Soeharto belajar mengaji di Langgar bersama teman-temannya, bahkan hingga semalaman. Ia juga berperan aktif dalam pengintaian Hizbul Wathan dan mengetahui tentang pahlawan seperti Raden Ajeng Kartini dan Pangeran Diponegoro dari surat kabar yang sampai di desa tersebut.

Setelah menyelesaikan empat tahun sekolah dasar (SR), Soeharto disekolahkan oleh orang tuanya ke sekolah menengah di Wonogiri. Setelah menginjak usia ke 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah Hardjowijono. Hardjowijono yaitu sahabat ayahnya yang merupakan seorang pensiunan pegawai kereta api. Hardjowijono juga merupakan pengikut setia Kiai Darjatmo, tokoh agama terkemuka di Wonogiri saat itu.

Karier militer
Pada tanggal 1 Juni 1940, ia diterima menjadi murid sekolah militer di Gombong, Jawa Tengah. Setelah enam bulan mengikuti pelatihan dasar, ia lulus sebagai lulusan terbaik dan mendapat pangkat kopral. Ia terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara di Gombong. Soeharto resmi bergabung dengan pasukan kolonial Belanda KNIL saat Perang Dunia II berkecamuk. Ia dikirim ke Bandung selama seminggu sebagai prajurit cadangan di markas tentara dengan pangkat sersan.

Nasib Soeharto kembali negatif, pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang. Demikianlah akhir kiprahnya di KNIL. Soeharto kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro dan mendapati dirinya kembali menganggur. Saat itu, Soeharto terjangkit malaria sehingga terpaksa harus menghabiskan waktu lama di rumah sakit. Setelah sembuh, Soeharto meminta pamannya Prawirowihardjo yang berprofesi sebagai guru pertanian untuk membantunya mencari pekerjaan karena tidak punya uang dan tidak nyaman hanya menumpang. Namun pamannya hanya bisa memberinya pekerjaan untuk menemani dan mempersiapkan dirinya untuk posisi pamannya sebagai guru pertanian. Soeharto menerima kesempatan itu dan memanfaatkan kesempatan untuk belajar ilmu pertanian dari pamannya, meski dalam waktu singkat.

Saat itu, atasan polisi Soeharto memberi tahu dia tentang pendaftaran Tentara Pembela Dalam Negeri (PETA), sebuah kekuatan militer yang disponsori Jepang. Perwira Jepang itu menyarankan Soeharto untuk mendaftar ke PETA, setelah itu ia bertugas sebagai letnan magang/penjabat di Karanganyar, Kebumen. Setelah masa percobaannya selesai dan dianggap berjasa, ia menjalani pelatihan militer lebih lanjut di Bogor, Jawa Barat, di mana ia ditugaskan sebagai chudancho (komandan kompi). Putra Panji Singgih, kawan seperjuangan Sukarno, tinggal bersama Shodancho Singgih di asrama Peta Bogor. Ia kemudian melatih prajurit PETA sebagai Chudanco di Seibu, markas PETA di Solo, kemudian di kaki Gunung Wilis di Desa Brebeg Selatan Madiun.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia resmi memproklamasikan kemerdekaannya, Soeharto kemudian resmi menjadi anggota TNI diangkat Pada bulan Oktober 1945 ia ditugaskan dengan pangkat letnan dan segera setelah itu, berkat reputasi dan pengalamannya di PETA, ia dipromosikan menjadi komandan batalion dengan pangkat mayor. Pada tahun 1946 ia kembali dipromosikan menjadi komandan resimen dengan pangkat letnan kolonel atau kolonel.

Setelah Perang Kemerdekaan berakhir, ia tetap memimpin Brigade Garuda Mataram sebagai letnan kolonel. Ia memimpin Brigade Garuda Mataram dalam operasi menumpas pemberontakan Andi Azis di Sulawesi. Ia kemudian diangkat menjadi Komandan Sektor APRIS Kota Makassar (Tentara Republik Indonesia) dan bertugas menjaga kota tersebut dari campur tangan eks KNIL/KL.